Biografi dan Profil Menteri Luar Negeri Retno Marsudi

Biografi dan Profil Menteri Luar Negeri Retno Marsudi

Jokowi  hari ini mengumumkan susunan menteri yang beliau sebut Kabinet Kerja untuk masa jabatan 2014-2019.  Salah satunya adalah Retno Lestari Priansari Marsudi yang terpilih menjadi menteri luar negeri 2014-2019.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi
Sebagai menteri luar negeri ke-18, perempuan kelahiran Semarang, 27 November 1962 itu sebelumnya menjabat sebagai duta besar untuk Kerajaan Belanda. Dia juga merupakan perempuan Indonesia pertama yang menjadi duta besar Kerajaan Belanda ketika terpilih pada 21 Desember 2012. Sebagai sosok menteri luar negeri, Retno Marsudi kaya pengalaman internasional karena sebelumnya dia juga menjabat sebagai direktur jenderal Amerika dan Eropa di Kementerian Luar Negeri sejak April 2008 hingga Januari 2012. Dengan tugasnya itu dia mengelola hubungan Indonesia dengan 87 negara di Eropa dan Amerika.
Retno Marsudi meraih gelar S-2 di Haagsche Hooge School Jurusan Hukum EU, Den Haag. Pada 2005 hingga 2008 dia menjadi duta besar untuk Kerjaaan Norwegia dan Republik Islandia. Istri dari arsitek Agus Marsudi itu juga pernah mendapat penghargaan Bintang Jasa “Grand Officer” dari Raja Norwegia. Dia adalah orang Indonesia pertama meraih kehormatan tinggi itu.
Ibu dari Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi itu juga pernah menduduki berbagai jabatan penting di Kemlu RI, termasuk sebagai Direktur Eropa Barat (2003-2005) dan Direktur Kerjasama Intra Kawasan Amerika-Eropa (2001-2003).
Sejak Republik Indonesia berdiri 69 tahun lalu, pejabat di garda depan diplomasi didominasi tokoh laki-laki. Diawali oleh Mr Achmad Soebarjo, Sutan Sjahrir, hingga generasi penerusnya seperti Hassan Wirajuda dan Marty Natalegawa.
Retno adalah contoh nyata hasil kebijakan pengarusutamaan gender di tubuh pemerintah. Dia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri (dulu masih bernama Departemen Luar Negeri) pada 1980, alias setahun sebelum lulus di jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada. Merujuk wawancaranya dikutip dari situs alumni Fisipol UGM, Retno menampik anggapan klise bahwa berkarir sebagai diplomat membuat perempuan mengabaikan rumah tangga. Kedua putranya juga mendukung karirnya yang kerap mengharuskan Retno bepergian.
Retno dikenal sangat menguasai isu-isu ekonomi dan kerja sama lingkungan. Jaringannya dengan negara-negara Barat juga amat luas. Mengawali kariernya, Retno berangkat ke Australia. Tugasnya berat, lantaran Indonesia pada 1992 dipojokkan atas pembantaian warga Timor Leste di Santa Cruz, Dili.
Pada 1997, Retno menjadi Sekretaris Satu Kedutaan Besar Indonesia di Den Haag, Belanda. Di negara inilah, karirnya menanjak paling pesat, hingga dia dipercaya menjadi Kepala Bidang Ekonomi. Negara di Benua Biru lain yang sempat dia singgahi untuk melaksanakan tugas diplomatik adalah Norwegia. Studi lanjut bidang HAM juga didalami Retno di Ibu Kota Oslo.
Karirnya sempat mencapai puncak eselon, sebagai Direktur Jenderal Amerika Eropa pada 2008 hingga 2012. Sebagai dubes, dia fokus meningkatkan hubungan dagang Indonesia-Belanda yang hanya mencapai USD 5 juta per tahun. Sosoknya juga populer di kalangan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Negeri Kincir Angin.
Dari rekam jejak itu, dapat diduga Retno dipilih karena Presiden Jokowi ingin diplomat memperkuat fungsi kerja sama ekonomi. Para dubes dan jajarannya diminta fokus mencari peluang pasar ekspor baru di mancanegara.
Adapun sampai sekarang belum diketahui rekam jejak Retno untuk negosiasi batas laut. Indonesia masih punya persoalan pembahasan batas landas kontinen dengan beberapa negara tetangga. Perundingan batas wilayah dengan Malaysia, misalnya, juga belum selesai sampai sekarang.
Padahal visi-misi Presiden Jokowi salah satunya membawa Indonesia menjadi poros maritim dunia. Isu perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), juga tidak cukup banyak diemban Retno selama berkarir sebagai diplomat.
Di luar itu, Retno pernah membuat esai di Harian Jakarta Post pada 2005. Intinya, publik jangan heran bila pejabat di Kemlu akan semakin banyak diisi perempuan.
Pada 2004 dari 98 diplomat baru, 47 adalah perempuan. Pada 2013, angkatan Sekdilu 38, diplomat wanita berjumlah 36 dari 70 CPNS yang diterima. Rasionya meningkat.
“Ini indikasi adanya peningkatan kualitas diplomat perempuan dan kesuksesan pengarusutamaan gender di kementerian luar negeri,” tulis Retno.

One Comment

  1. KISAH SUKSES SAYA DARI HONORER JADI PNS Assalamu Alaikum wr-wb,Mohon maaf mengganggu waktu dan aktifitas ibu/bapak,saya cuma bisa menyampaikan melalui pesan singkat dan semoga bermanfaat, saya seorang honorer baru saja lulus jadi PNS tahun lalu, dan Saya ingin berbagi cerita kepada anda, Bahwa dulunya saya ini cuma seorang Honorer di sekolah dasar 009 jawa timur , Sudah 8 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, tidak pernah lolos bahkan saya sempat putus asah,namun teman saya memberikan no telf Bpk drs sudwidjo yang bekerja di BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur 13640 sebagai Kepala deputi bidang mutasi kepegawaian yang di kenalnya di bkn jakarta dan saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisa nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya anda bisa, Hubungi Bpk DRS SUDWIDJO KUSPRIYO MURDONO. M. SI no telf beliau yang selalu aktif 0852-3042-5444 siapa tau beliau masih bisa membantu anda wassalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *