Menolak lupa ( Kisah Jenderal Bintang 5 A.H Nasution )

Menolak lupa ( Kisah Jenderal Bintang 5 A.H Nasution )

Kisah Jenderal Bintang 5 Ahmad Harris Nasution

Salah satu dari 3 Jenderal bintang 5 angkatan darat yaitu Ahmad Harris nasution (A.H Nasution) ,lahir di kotanopan sumatera utara 3 desember 1918, dan wafat pada 6 september 2000 di Jakarta. Beliau adalah pejuang kemerdekaan Indonesia, karena jasa nya yang besar untuk tanah air tercinta ini dia di nobatkan sebagai Jenderal Besar.

Kisah Jenderal Bintang 5 ini dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, patut kita simak kisahnya sebagai bagian dari kemerdekaan Indonesia.

Awal karir

Pada awalnya Ahmad Harris Nasution bercita-cita menjadi seorang guru, namun setelah ia mengenal politik mulai memudar cita-citanya. Diam-diam jenderal bintang 5 ini  mengagumi soekarno dan mulai membeli buku-buku yang di tulis oleh soekarno, saat ia tinggal di Bengkulu untuk menjadi tenaga pengajar disana nasution tinggal di dekat rumah pengangsingan bung karno,nasution sering berbincang dan pergi ke tempat pengasingan soekarno. Dia sering melihat bung karno berpidato dan itu membuatnya menjadi semakin tertarik ke duni politik.

Kisah Jenderal bintang 5 Ahmad Harris Nasution sebagai seorang perwira dimulai pada tahun 1940 saat belanda membentuk korps perwira cadangan yang menerima orang Indonesia. Kesempatan ini tidak di sia-sia kan oleh A.H nasution ,walaupun hanya menjadi perwira cadangan dan itupun di bentuk oleh belanda, tapi ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa terjun ke dunia militer. Pada tahun 1940 dia dikirim ke Akademi militer bandung untuk mengikuti pelatihan. Karirnya dalam dunia militer terbilang mulus dan pesat, setelah pelatihan selesai dia menjadi kopral ,3 bulan kemudian di angkat menjadi sersan.  Setelah itu menjadi seorang perwira di Koninkklijk Nederlands -Indische leger. Pada saat jepang menduduki Indonesia di tahun 1942 , Nasution yang sedang berada di Surabaya untuk menjaga pelabuhan akhirnya kembali karena terancam di tangkap oleh jepang.

Divisi Siliwangi

Saat di jawa barat setelah soekarno memproklamasikan kemerdekaan, A.H nasution bergabung ke militer nasional yang di sebut Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tahun 1946 ia di promosikan menjadi panglima regional siliwangi ,yang memimpin keamanan jawa barat pada saat itu, dan dia juga mengembangkan teori perang territorial yang menjadi panduan untuk Tentara Nasional Indonesia di masa mendatang.

A.h nasution2

Wakil Panglima

Kisah Jenderal Ahmad Nasution selanjutnya dalam dunia ke militeran Indonesia, waktu dia di angkat menjadi wakil panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ini adalah prestasi yang sangat menakjubkan di dunia ke militeran, dimana seorang kolonel bisa menjadi wakil panglima angkatan darat. Dalam tugas pertamanya dia membantu atasannya Jenderal Besar Sudirman untunk mengatur ulang system organisasi dalam pasukan, lalu A.H nasution mengusulkan untuk perang gerilya dengan belanda, yang pada akhirnya ide cemerlang itu disepakati.

Walaupun impiannya sebagai panglima belum terwujud ,namu saat berperang dengan angkatan senjata Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dia langsung memimpin pasukan pada saat peristiwa madiun 1948 yang waktu itu di ambil alih oleh Amir sjafruddin dan Musso dari Partai Komunis Indonesia atau yang lebih dinelak Sebagai PKI.

Peristiwa 17 oktober

Pada peristiwa 17 oktober 1952 ini kisah jenderal besar A.H Nasution di dunia militer mulai tercoreng, sebelum peristiwa ini terjadi ,ada perbedaan pendapat tentang dunia ke militeran Indonesia. Perbedaan pendapat antara A.H nasution, TB.Simatupang dan Bambang supeno untuk kebijakan yang di keluarkan Untuk ABRI adalah memperkecil linkup tentara namun menghasilkan tentara yang lebih professional dan modern pada masa itu, juga untuk menggabungkan tentara didikan Belanda dan Jepang. Konflik ini mulai memanas saat bambang supeno mendapat dukungan dari DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) , yang akhirnya mengeluarkan kebijakan tentang restrukturisasi ABRI, yang membuat A.H NAsution dan T.B Simatupang tidak senang.

Akhirnya A.H Nasution dan T.B Simatupang mengepung istana kepresidenan dan mengarahkan meriam ke arah istana, lalu presiden soekarno keluar untuk berdiskusi dengan mereka.dan akhirnya berhasil meyakinkan warga sipil dan tentara untukpulang, A.H nasution dan TB. Simatupang berhasil dikalahkan.

Jaksa Agung Suprapto memeriksa dua perwira tersebut dan akhirnya desember tahun 1952 kehilangan posisi di ABRI dan di berhentikan dalam tugas dinas.

 

Dan demikian adalah sepenggal kisah jenderal Bintang 5 A.H Nasution ,walaupun kisah yang di tulis dalam artikel ini tidak semuanya dapat tersampaikan, namun setidaknya kita bisa mengenang dan mengetahui kisah dari salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *