Penembakan Aktivis Anti Korupsi Bangkalan, KPK Kehilangan Saksi Kunci

Penembakan Aktivis Anti Korupsi Bangkalan, KPK Kehilangan Saksi Kunci

Mathur Husairi seorang aktivis anti korupsi bangkalan ditembak oleh orang tak dikenal di dekat rumahnya di Jalan Teuku Umar, Bangkalan, Selasa pukul 02.00 WIB. Aktivis LSM CiDE tersebut ditembak orang tak di kenal pada saat membuka pagar rumahnya. Menurut Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono Pelaku menembak satu kali dan mengenai perut korban, lalu pelaku lari ke arah selatan dengan menggunakan sepeda motor. Mathur Husairi mengalami luka parah pada bagian pinggang sebelah kanan. Mathur sempat dilarikan ke RSUD Bangkalan dan akhirnya dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya.

Keadaan Mathur Husairi

Kronologi Penembakan Aktivis Anti Korupsi Mathur Husain

Kejadian penembakan bermula ketika korban melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat yang membahas tentang kasus korupsi di Bangkalan. Setelah selesai, korban pulang dengan menaiki mobil Avanza bernomor polisi M 307 HA warna abu-abu metalik miliknya sendirian. Setibanya di depan rumahnya, dia turun dari mobil dan membuka pintu pagar, dan saat itu korban langsung ditembak orang tak dikenal. Pelaku mengendarai sepeda motor, dan diduga, korban telah dibuntuti pelaku sejak dalam perjalanan. Akibatnya, korban Mathur Husairi mengalami luka parah pada bagian pinggang sebelah kanan.
selama ini, Mathur dikenal aktivis LSM yang kritis menyikapi kebijakan dan aksi tindak korupsi di Pemkab Bangkalan. Beberapa pihak berpendapat bahwa pria misterius yang menembak Mathur itu ada kaitannya dengan Ketua DPRD Bangkalan, Fuad Amin Imron, yang saat ini telah ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Sebelumnya, Ketua LSM CiDE Bangkalan Mathur Husairi menilai aksi ‘Gempur’ (Gerakan Masyarakat Peduli Ra Fuad) yang menggelar unjuk rasa untuk meminta KPK menerapkan azas praduga tak bersalah dalam pemeriksaan KHR Fuad Amin, sebagai hal yang tak berpengaruh. Sementara itu, para aktivis ‘Gempur’ menilai Fuad Amin merupakan ‘korban’, karena Fuad Amin adalah sosok pimpinan dan panutan masyarakat Bangkalan. Gempur meminta KPK memberikan kepastian hukum terhadap Fuad Amin dengan prinsip hukum yang adil dan bijaksana serta mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam proses hukum yang ada. 

Mathur saksi kunci KPK

Sementara itu dilansir dari Tempo, Kasus penembakan aktivis Mathur Husairi oleh orang tak dikenal, diduga dilatarbelakangi statusnya sebagai saksi kunci KPK di pengadilan. Mathur akan diminta keterangannya untuk membongkar seluruh praktek korupsi yang diduga dilakukan Ketua DPRD Bangkalan Fuad Amin Imron dan kroninya selama 10 tahun menjadi bupati Bangkalan.

Terkait kasus dugaan korupsi di Bangkalan, pada 2 Desember 2014 lalu, KPK menangkap tangan Ketua DPRD Bangkalan, Fuad Amin Imron karena diduga menerima suap jual beli gas alam di Bangkalan dari Direktur PT Media Karya Sentosa, Antonio Bambang Djatmiko.

PT Media Karya Sentosa diketahui bermitra dengan perusahaan daerah setempat bernama PD Sumber Daya dalam menyalurkan gas hasil pembelian dari PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore untuk pembangkit tenaga gas di Gili Timur Bangkalan dan Gresik.

Fuad Amin yang kini mendekam di Rutan Pomdam Jaya Guntur tersebut dijerat dengan Pasal 12 huruf a huruf b, Pasal 5 ayat 2, Pasal 11 Juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Tak hanya itu, Fuad Amin juga menjadi tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang dengan jeratan Pasal 3 UU No 8 Tahun 2010 dan Pasal 3 ayat (1) UU No 15/2002 yang diubah dengan UU No 25/2003. [F-5/ARS/L-8]

Menurut rekan Mathur, Mahmudi Ibnu Khotib Dia bercerita, KPK memintanya jadi saksi kasus Fuad dan dia siap untuk bersaksi. Kesanggupan Mathur untuk bersaksi, kata Mahmudi, diduga membuat para kroni Fuad di Bangkalan gerah. Agar bungkam tak bisa bersaksi, ia ditembak. Mahmudi juga meluruskan, malam sebelum penembakan, Mathur memang melakukan pertemuan. Namun bukan dengan tokoh masyarakat, melainkan dengan para pegiat anti korupsi Bangkalan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *